Siang panas di kota yang terlupakan, Purwokerto. Dengan bermodalkan
laptop, aliran listrik, dan sedikit ide didalam otak saya, saya coba
menulis. Kali ini, awal ini, ditulisan ini, saya ingin mencurahkan
keresahan saya tentang cinta. Ide yang "katanya" dirasakan oleh semua
orang di dunia ini.
Oke, cinta. Kalo kata "Tuhannya"
orang awam (wikipedia), Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang
kuat dan ketertarikan pribadi berupa pengorbanan diri, empati,
perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan,
mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek
tersebut. Saya teringat pada guyonan ketika saya tinggal di Medan
"Jangankan wanita terburuk rupa didunia, anak babi dibedakin juga
dibilang cantik kalo udah cinta". Saya setuju sama salah satu Tuhan saya
(saya termasuk orang awam). Cinta itu murni. Artinya cinta yang
sebenarnya adalah cinta yang tidak terkontaminasi oleh pembenaran cinta
(gak bener dibener-benerin).
Disini saya juga akan
sedikit menyinggung cinta versi pemuda Indonesia. Sebagaimana yang sudah
kita ketahui kehidupan orang Indonesia tak lepas dari sebuah ide yang
dinamakan cinta (katanya). Terutama pemuda pemudi Indonesia bahkan tak
jarang ada yang bunuh diri akibat ide yang sudah lama meninggalkan dunia
ini.
Mari kita bedah satu contoh dari asumsi diatas.
Tidak usah jauh-jauh, silakan login facebook, masuk halaman beranda,
tara!!! anda akan membaca curahan hati para pemuda-pemudi Indonesia yang
kebanyakan membicarakan soal cinta. Entah diputusin, dicampakan,
menghina teman karena merasa kekasihnya sudah direbut (padahal
kekasihnya yang kegatelan), kesan sesudah bercumbu (saya ngeliat sekali
dan saya mau muntah abis ngebacanya), pembualan tingkat tinggi (i will love u together : padahal kalo udah bosen putus), sampai sapaan yang mengikuti pasangan suami istri : papah/mamah (hoaq cuih).
Inilah
yang sedang terjadi di Indonesia. Dimana cinta yang sebenarnya sudah
tergerus oleh pembenaran tentang cinta. Jangan heran ketika anda
bertanya arti cinta kepada seorang anak muda Indonesia, anak muda itu
menjawab "Cinta itu menyakitkan". Anak muda itu benar, tetapi dari sudut
pandang pembenaran dan bukan dari sudut pandang kebenaran.
Kita
hanya bisa mengikuti apa kata hati berkata. Kata hati harus percaya
kita percaya, kata hati harus berbohong kita berbohong, tanpa memikirkan
logika, bahkan diwaktu yang sama logika menentang ketika kata hati
berbicara tentang pembenaran cinta. Tanpa sadar diskriminasi sudah kita
lakukan, ketika akal pikiran cemerlang kita dikuasai oleh cinta yang
terkontaminasi. Yang mendahulukan hati sebelum logika.
Menurut
saya, cinta hanyalah nilai. Nilai yang dibawa oleh seseorang dan pada
akhirnya semua orang hanya bisa mendekati nilai cinta tersebut dan tidak
bisa sepenuhnya menjalani nilai-nilai ini. Lalu apakah cinta yang
sesungguhnya ada? Mari bersama-sama merefleksikan ilmu ini.
Aku tak pernah merasakan pagi
Pagi yang sejuk oleh ide yang tak nyata ini
Haruskah ada pagi yang berkamuflase dengan malam
Ketika mereka menganggap malam adalah pagi
Hei cinta!!! Sejak kapan diskriminasi mempengaruhimu
Hei cinta!!! Sampai kapan kau bersembunyi di dalam hati
Hei cinta!!! Andaikan kau punya cinta
Takkan kupercaya engkau, sampai engkau memikirkan kami
Oleh kami yang memikirkan kau
