Senin, 20 Februari 2012

Rumus perpacaran di Indonesia

Siang panas di kota yang terlupakan, Purwokerto. Dengan bermodalkan laptop, aliran listrik, dan sedikit ide didalam otak saya,  saya coba menulis. Kali ini, awal ini, ditulisan ini, saya ingin mencurahkan keresahan saya tentang cinta. Ide yang "katanya" dirasakan oleh semua orang di dunia ini.

Oke, cinta. Kalo kata "Tuhannya" orang awam (wikipedia), Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut. Saya teringat pada guyonan ketika saya tinggal di Medan "Jangankan wanita terburuk rupa didunia, anak babi dibedakin juga dibilang cantik kalo udah cinta". Saya setuju sama salah satu Tuhan saya (saya termasuk orang awam). Cinta itu murni. Artinya cinta yang sebenarnya adalah cinta yang tidak terkontaminasi oleh pembenaran cinta (gak bener dibener-benerin).

Disini saya juga akan sedikit menyinggung cinta versi pemuda Indonesia. Sebagaimana yang sudah kita ketahui kehidupan orang Indonesia tak lepas dari sebuah ide yang dinamakan cinta (katanya). Terutama pemuda pemudi Indonesia bahkan tak jarang ada yang bunuh diri akibat ide yang sudah lama meninggalkan dunia ini.

Mari kita bedah satu contoh dari asumsi diatas. Tidak usah jauh-jauh, silakan login facebook, masuk halaman beranda, tara!!! anda akan membaca curahan hati para pemuda-pemudi Indonesia yang kebanyakan membicarakan soal cinta. Entah diputusin, dicampakan, menghina teman karena merasa kekasihnya sudah direbut (padahal kekasihnya yang kegatelan), kesan sesudah bercumbu (saya ngeliat sekali dan saya mau muntah abis ngebacanya), pembualan tingkat tinggi (i will love u together : padahal kalo udah bosen putus), sampai sapaan yang mengikuti pasangan suami istri :  papah/mamah (hoaq cuih).

Inilah yang sedang terjadi di Indonesia. Dimana cinta yang sebenarnya sudah tergerus oleh pembenaran tentang cinta. Jangan heran ketika anda bertanya arti cinta kepada seorang anak muda Indonesia, anak muda itu menjawab "Cinta itu menyakitkan". Anak muda itu benar, tetapi dari sudut pandang pembenaran dan bukan dari sudut pandang kebenaran.

Kita hanya bisa mengikuti apa kata hati berkata. Kata hati harus percaya kita percaya, kata hati harus berbohong kita berbohong, tanpa memikirkan logika, bahkan diwaktu yang sama logika menentang ketika kata hati berbicara tentang pembenaran cinta. Tanpa sadar diskriminasi sudah kita lakukan, ketika akal pikiran cemerlang kita dikuasai oleh cinta yang terkontaminasi. Yang mendahulukan hati sebelum logika.

Menurut saya, cinta hanyalah nilai. Nilai yang dibawa oleh seseorang dan pada akhirnya semua orang hanya bisa mendekati nilai cinta tersebut dan tidak bisa sepenuhnya menjalani nilai-nilai ini. Lalu apakah cinta yang sesungguhnya ada? Mari bersama-sama merefleksikan ilmu ini.



Aku tak pernah merasakan pagi

Pagi yang sejuk oleh ide yang tak nyata ini

Haruskah ada pagi yang berkamuflase dengan malam

Ketika mereka menganggap malam adalah pagi

Hei cinta!!! Sejak kapan diskriminasi mempengaruhimu

Hei cinta!!! Sampai kapan kau bersembunyi di dalam hati

Hei cinta!!! Andaikan kau punya cinta

Takkan kupercaya engkau, sampai engkau memikirkan kami

Oleh kami yang memikirkan kau